Lima belas tahun yang lalu, ia masih seorang remaja labil, mudah goyah dan tak memiliki pandangan jauh ke depan. Ia menjalani hidup bak air mengalir, tanpa tujuan. Saat masih duduk di bangku SMP, dia kerap tawuran dan bolos sekolah.

Kebiasaan buruk itu masih berlanjut saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Malah kenakalan yang diidapnya kian menjadi-jadi sehingga orangtuanya nyaris mengelus dada karena tak sanggup memberi nasehat. Maka, ayahnya pun sering dipanggil datang ke sekolah.

Habis itu, biasanya ia mulai rajin ke sekolah dan tidak bolos sekolah lagi. Tetapi, itu hanya berlangsung beberapa hari. Tak lama kemudian, ulahnya kambuh. Ia bolos lagi dan orangtuanya kembali dipanggil hingga ia mendapat teguran. Sayang, semua itu hanya dianggap angin lalu. Setelah itu, ia kambuh lagi. Bolos lagi dan lagi. Orangtuanya dibuat putus asa untuk terus menasehati. Apalagi dia seperti tuli.

Tetapi, ketika ia menginjak kelas tiga, ia tak lagi bolos untuk main dan hura-hura tetapi kerja menjadi buruh bangunan. Pengalaman medapat uang itu membuatnya tergiur berhenti sekolah. Maka suatu hari, tanpa ada perasaan salah, ia menghadap ayahnya. “Saya pikir sudah tak ada gunanya saya melanjutkan sekolah. Saya ingin keluar!”

Bagai disambar petir, sang ayah seakan ditusuk belati. Maka sang ayah minta ketegasan, “Apa sudah kamu pikir dengan matang?”

“Sudah!” jawab si anak, tanpa ragu.

“Kamu ini beruntung… Tetapi aku heran, kenapa kamu kurang bersyukur? Coba kau lihat anak-anak yang putus sekolah di jalan? Padahal, mereka tak pernah meminta dilahirkan untuk jadi anak jalanan. Sebagian dari mereka, aku yakin ingin tetap sekolah tapi keadaan membuat mereka putus sekolah. Kenapa kamu yang aku sekolahkan, kini tiba-tiba ingin keluar?”

“Aku mau kerja!”

“Lantas, mau kerja apa? Jadi buruh bangunan?”

Si anak diam sejenak, lalu berkata “Tapi itu tetap sebuah pekerjaan halal…!”

“Aku tak mengatakan pekerjaan itu haram, tapi perlu kamu camkan! Aku masih mampu membiayaimu sekolah. Aku minta kamu tak keluar dan aku hanya minta kamu lulus SMA. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu jika kau ingin pergi ke mana pun kau mau. Aku hanya minta kamu lulus SMA. Itu saja!”

“Tetapi, aku sudah tak betah sekolah dan tidak ada jalan lain kecuali keluar!”

“Sekarang ini mungkin kamu tak menyesal, tetapi bagaimana sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, ketika kau butuh ijazah SMA? Apa yang akan kau lakukan? Aku yakin, kau akan menyalahkanku karena aku tak mengarahkanmu. Karena siapa sangka, dua puluh tahun kelak kamu butuh ijazah untuk jadi bupati! Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

Si anak berdiri meninggalkan ayahnya. Tapi perkataan ayahnya itu membuat ia sadar. Ia tak jadi keluar dan memilih melanjutkan hingga lulus SMA. Bahkan setelah itu, ia kuliah. Kini ayahnya sudah meninggal. Tapi nasehat itu membuatnya sudah jadi orang. Kini ia sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dari selembar ijazah S1. Jika dahulu ia tak menuruti nasehat ayahnya, mungkin jalan hidupnya akan lain. (n. mursidi)

Sumber: Majalah Hidayah, November 2008.